Cara Menghadapi Pimpinan Kerja Toxic

Pimpinan Kerja Toxic
Credit Photo: Freepik


Punya pimpinan di kantor yang sering memberi pekerjaan dimana bukan job description yang kamu emban? Lalu ada juga pimpinan yang suka menyuruh sesuatu di luar jam kerja misalnya. Bahkan di saat waktu tidur malam hari pun bos menghubungimu untuk menyuruh pesan tiket pesawat misalnya. Padahal kan dia juga punya smartphone yang bisa menginstall aplikasi travel online.

Atau ada juga bos yang suka menyuruh karyawan melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan urusan kantor, misal antar jemput anaknya yang berada di bangku TK. Duh, engga banget sih ya. Tapi ada lho tipe bos seperti itu, dimana memanfaatkan karyawan untuk melakukan hal yang bukan tugasnya sama sekali. Salah satu alasannya tentu saja menghemat budget ketika harus menyewa ART. Tapi kan karyawan bukan ART-nya bos!

Kalu bos kamu sudah seperti yang saya sebutkan di atas, maka waspadalah karena tipe pimpinan seperti itu cenderung toxic. Menghadapi bos yang toxic memang membuat kita berada di situasi yang tidak menyenangkan. 

Namun, ada beberapa cara yang bisa kamu coba untuk menghadapi situasi ini yaitu:

1. Tetapkan Batasan Profesional

Sebisa  mungkin batasi interaksi dengan bos di luar urusan pekerjaan. Di luar jam kerja, kamu bisa menolak apa yang bukan menjadi tugasmu. Lindungi waktu pribadi yang kamu miliki dengan tidak membiarkan pekerjaan mengganggu waktu istirahat atau kehidupan pribadi.

Komunikasikan dengan bos mengenai batasan tersebut dengan menginformasikan kepada bos bahwa kamu tidak bisa dihubungi di luar jam kerja. Jika bos tetap melakukannya, kamu bisa mematikan handphone di luar jam kerja.

2. Komunikasi yang Efektif

Tentu mengkomunikasikan hal-hal yang sensitif akan membuat bos tidak senang dan kamu bakal dicap negatif. Ingat bahwa bos yang toxic cenderung tidak mau menerima argumen dari para bawahannya.

Jika usahamu untuk berbicara baik-baik dengan bos mengenai tugas dan tanggung jawab yang sudah kelewat batas tidak berhasil, maka mungkin sudah saatnya kamu komunikasikan dengan rekan kerja lainnya. Mungkin saja mereka mau diajak berbagi tugas apabila bos sudah mulai memberi perintah yang tak masuk akal.

3. Fokus pada Pekerjaan

Tetap lakukan tugasmu dengan baik selama masih berstatus karyawan bos yang toxic. Sebab terkadang ketika kita belum menemukan jalan keluar maka pilihan bertahan di pekerjaan adalah keputusan terbaik.

Fokus pada pekerjaan dan berusaha untuk menyelesaikan segala kewajiban tepat waktu. Namun usahakan untuk menghindari tugas di luar divisimu agar bos tidak melihatnya sebagai peluang untuk memanfaatkanmu.

4. Tidak Perlu Berusaha Akrab

Jaga jarak profesional dengan membatasi hubungan dengan bos sebatas hubungan profesional kerja. Meskipun kamu sangat tersiksa dengan perilaku bos yang cenderung toxic, namun tetap hindari gosip dan jangan ikut-ikutan menyebarkan gosip tentang perilaku bos yang toxic.

5. Evaluasi Pilihan Karier

Jika memang kamu sudah tidak tahan lagi menghadai bos yang toxic, maka cobalah untuk mencari tahu peluang kerja lain yang mungkin lebih sesuai. Jangan lupa untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan karier.

Perluas jaringan profesional untuk mendapatkan informasi tentang peluang karir di tempat lain. Intinya jangan terburu-buru ketika ingin resign. 

Memiliki bos yang toxic di tempat kerja mungkin bisa  menyebabkan stress. Namun kamu harus tetap prioritaskan kesehatan mental dan jangan sampai kesehatan mentalmu terganggu.

Jika situasi sudah sangat buruk dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, mungkin resign adalah pilihan terbaik. Namun, pertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan ini.

1 komentar untuk "Cara Menghadapi Pimpinan Kerja Toxic"

  1. Poin terakhir realistis sekali. Buat apa bertahan sekiranya juga tidak mendukung karir kita ya

    BalasHapus